A line Dress

 

“Alamak! Cantik kaliiii!” jeritku. Kupandangi layar ponsel, mengagumi sepotong gaun di etalase butik online. Gaun A line berwarna turangga. Berlengan tulip dan berleher sabrina. Terbuat dari satin bridal dipadu brokat di bagian dada. Bagian pinggang berhias batu kristal dan payet. Cantik sekaligus mewah. Aku benar-benar jatuh cinta pada gaun itu. Sayang, aku langsung patah hati ketika menelisik harganya, 875 ribu. Tanpa diskon, tanpa subsidi ongkos kirim.

Omak pura-pura tidak mendengar jeritanku. Omak pasti tahu borunya sedang mencari baju natal. Aku minta dibelikan dari kemarin. Omak langsung beralasan dan berpetuah, ”Natal bukan berarti harus pakai baju baru. Kau bukan anak-anak lagi, toh? Sudah berumur 16 tahun, kelas 2 SMA.”

“Belikanlah, Mak.” Aku menyodorkan ponsel kepada Omak.

“Nggak usah mimpi!” kata Omak ketus. Bertingkah judes, itu strategi jitu Omak. Supaya aku membatalkan niat melantunkan pujian untuk merayu. Omak melirik sekilas harga gaunnya dan mengabaikan detail elok gaun tersebut.

“Anak, kok, dilarang bermimpi,” cetus Bapak yang sedang memperbaiki keran wastafel. Kami sedang berkumpul di dapur. Bapak itu orang yang serba bisa. Dapat diandalkan. Apapun yang rusak di rumah, bapak perbaiki sendiri.

“Semua hal hebat berawal dari mimpi, baru diusahakan untuk diwujudkan,” lanjut Bapak.

“Harganya mahal, Pak. 875 ribu. Bisa memenuhi belanja dapur hampir sebulan,” jawab omak.

Bapak menoleh padaku yang sedang membantu Omak memetik toge. Omak mau bikin gado-gado. Makanan kegermaranku.

“Bapak yakin kau akan punya gaun indah. Tapi nanti ya, Nang. Bukan sekarang. Tetaplah bermimpi,” kata Bapak sambil tersenyum. Bapak berusaha menghiburku. Kami memang keluarga sederhana. Bapak seorang guru SMP swasta. Penghasilannya cukup memenuhi kebutuhan dasar saja. Cukup untuk pangan, sandang dan pendidikan. Kebutuhan tersier masih dikesampingkan. Omakku seorang ibu rumah tangga. Penghasilan Bapak pas untuk kami bertiga. Seandainya aku punya adik, mungkin Omak wajib mencari uang juga.

Aku memonyongkan mulut mendengar ucapan Bapak. Tidak dapat kutepis khayalan mengenakan gaun itu. Akan kupadukan dengan sepatu stiletto yang berwarna senada.

“Wah, aku pasti terlihat menarik. Siapa tahu Keinzo jadi naksir.” Anganku melayang. Kasmaran pada dua hal. Kucoba menghitung uang celengan, masih sangat kurang.

Tapi begitulah aku. Bila menginginkan sesuatu, wajib berusaha dijangkau. Sebenarnyapun, aku jarang tertarik memiliki benda-benda di luar kesanggupan. Aku tahu diri. Entah kenapa, melihat gaun itu aku serasa terhipnotis.

Tiba-tiba aku ingat mesin jahit Omak. Mesin yang sudah lama menganggur. Dulu, Omak suka menjahit perlengkapan rumah, seperti seprai, sarung bantal dan gorden. Kata Omak lebih hemat daripada membeli. Sejak menggandrungi tanaman, Omak cuti menjahit. Omak mengganti kesibukan dengan memelihara bunga lidah mertua, bunga duda korengan, bunga janda bolong, dan bunga janda-janda lainnya. Syukurlah! Omak masih ingat menanam sayuran. Sayur tanpa pestisida. Organik nama kerennya. Tujuan omak senatiasa sama, menghemat uang belanja.

Kemudian, aku browsing tutorial membuat gaun sendiri. Aku tenggelam berselancar dalam dunia youtube, google dan pinterest. Toge terabaikan. Omak segera ambil alih.

“Kelihatannya mudah, mengapa nggak mencoba?” pikirku.

“Mak, aku minta 200 ribu, ya?” pintaku setelah meyakinkan diri sanggup mengikuti step by step tutorial youtube. “Beli kain aja. Mesin jahit Omak masih bagus, ‘kan?”

“Kau pikir menjahit gaun itu gampang? Ah, nggak usah! Cari gaun seharga itu aja”

Aku otomatis menjawab, “Mana ada gaun cantik yang harganya 200 ribu. Pak, bagi 200 ribu ya, Pak.”

Bapak masih berkutat dengan kesibukan, “Dengar, tuh, kata Omak. Nanti duitnya sia-sia.”

“Kalau nggak nyoba, kan, nggak tau, Pak?”

Bapak merogoh kantongnya.

“Bapak senang kau mau berkreasi, mencari solusi. Bapak lebih senang kalau yang kau mulai, dapat kau selesaikan dengan baik,” ujar Bapak sambil menyerahkan uangnya.

Ditemani Omak, aku berangkat ke pajak ikan, pusat penjualan kain di Kota Medan. Satu demi satu toko kami telusuri. Demi mendapatkan kain bagus yang murah.

“Apa cari, kak?”

“Masuk dulu, kak. Masuk.”

“Murah, kak. Murah.”

Demikianlah suasana pajak ikan. Pandemi korona membuat pajak sepi. Kami leluasa berjalan dari lapak ke lapak di gang yang sempit.

Setelah kaki terasa pegal, seperti mau patah, kain yang mirip dengan gaun di ponsel akhirnya diperoleh. Belanja bersama Omak sangat menyiksa. Aku jera belanja dengan omak. Beda harga seribu perak pun, Omak rela berjalan kaki dari Sabang sampai Merauke.

“Hitung-hitung olahraga,” kelit omak karena aku mengeluh.

“Seribu perak kali tiga meter, udah tiga ribu, lho. Bisa beli minum,” celetuk omak. Padahal kala aku minta dibelikan es campur, omak menolak.

Sesampai di rumah, aku berapi-api sekali memulai proyek gaun. Aku mewarisi sifat Bapak yang suka belajar dan berkarya. Aku selalu ingat pesan Bapak. “Hidup itu harus bersemangat. Dengan semangat, yang sulit jadi nggak rumit. Bergairah melakukan apapun, membawamu ke garis finish.”

Aku mengambil gaun yang nyaman dipakai untuk kuukur.  Aku belum tahu cara mengukur tubuh sendiri. Kuukur lingkar dada, lingkar panggul, lebar bahu, kerung leher, lingkar lengan dan panjang gaun. Aku malas minta tolong omak, sering berakhir sia-sia.

“Ah, kau ini. Kalau tau ngukur, dari dulu Omak udah jahit baju.” Jawaban klise.  

Menuntut ilmu zaman sekarang sungguh mudah. Murah pula karena nyaris gratisan. Semata-mata bermodal paket data.  Ahlinya tahan ngomong lama. Mengulang penjelasan seratus kali pun, sang tutor tetap sabar. Suaranya konstan dan stabil. Di mana lagi dapat tutor seperti  itu  kalau bukan di youtube.

Karena ini pengalaman pertamaku menjahit, aku harus berlatih mengayuh mesin jahit. Mesin jahit Omak masih manual. Belum pakai dinamo. Berulang kali roda putaran berputar melawan arah, menyebabkan benang selalu putus. Aku terus mencoba, pantang putus asa.

Tahap berikutnya membuat pola. Aku menyambungkan dua kertas koran sehingga pola sesuai dengan panjang gaun yang kuinginkan. Aku  ikuti rumus pembuatan pola dasar seteliti mungkin.

Dua minggu berlalu, beberapa kali aku harus mendedel jahitan yang kurang rapi. Aku usahakan hati-hati karena jenis kainnya mudah meninggalkan jejak berlubang. Dan.. Selesai! Mirip dengan gaun yang kuinginkan, hanya berbeda dibagian pinggang. Belum berpayet dan berbatu kristal. Masih ada waktu seminggu untuk belajar membuatnya sebelum natal tiba.

“Berbakat kali kau, Nang. Tamat SMA, kursus jahit ajalah kau, ya,” bujuk Omak.

“Mak, nggak lama lagi mesin jahit udah jahit sendiri, lho. Nggak butuh tenaga manusia” sungutku. Aku curiga Omak mau pengiritan dari pengeluaran menyekolahkan anak.

“Cobalah dulu, biar kutengok,” timpal Omak, tampak puas dengan hasil karyaku “Besok kita ke pajak ikan, ya. Kau jahit jugalah baju omak.”

Aku buru-buru ke kamar untuk fitting. Sial! saat mencoba memakainya, aku merasa tidak nyaman. Sesak. Bahkan resletingya tidak dapat kurapatkan.

“Omaaaaak!” panggilku. “Aaaaaaarrrggggg.”

Omak datang tergopoh-gopoh,”kenapa?”

“Nggak muaat,” gerutuku kesal.”Apa aku tambah gemuk?”

Omak memutar-mutar tubuhku, “Nggak, kok. Coba kau ukur dulu gaunnya.”

Kuambil meteran kain. Kuukur, lalu kubandingkan dengan ukuran di catatan.

“Kok, kurang enam sentimeter, Mak?” kataku kaget.

Omak berpikir, kemudian bertanya, “Ukuran kampuhnya kau buat berapa?”

“Satu setengah sentimeter”

“Waktu gunting kain, kampuhnya memang kau bikin, kan?”

Huaaaaaa. Aku baru ingat, kainnya kugunting mengikuti pola. Tidak menyisakan ukuran lebih untuk kampuh. Patut ukuran gaun mengecil. Aku betul-betul kecewa.  Seandainya gaun itu kubongkar pun, ukurannya tetap kekecilan. Belum lagi kainnya akan berjejak bolong-bolong karena bekas jahitan yang dibuka.

Aku pedar hati. Tatkala mengetahuinya , Bapak berujar lembut, “Makna natal bukan baju baru. Hati yang baru. Penuhi dengan kasih”

Gaun itu akhirnya kuhadiahkan kepada adik sepupuku. Dia sangat bersuka menerimanya,sampai membuatku terharu. Ketika mengikuti ibadah natal di gereja, aku memakai gaun tahun lalu. Kami bertiga duduk di depan, leluasa memandang mimbar.

Tidak kusangka, hadiah natalku jauh lebih indah. Dari depan gereja, tempat para pemuda bermain alat musik, Keinzo memandang dan melempar senyum manis untukku. Sukmaku melayang, melantunkan senandung natal. Bukan cuma buat Keinzo tetapi buat kita semua. Selamat Natal.

Catatan:

-       Boru = putri.

-       Nang = singkatan dari Inang, sapaan orangtua kepada putrinya.

-       Kampuh = kain yang tersisa di luar batas jahitan.


Cerita ini salah satu dari cerpen  buku nubar berikut.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kegalauan Emak-Emak Bekerja

Julie & Julia

Belgia