Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Sri Rejeki

Aglonema adalah nama latinku. Kebanyakan orang memanggilku Sri Rejeki. Mereka percaya kalau aku bisa membawa rejeki. Aku termasuk tanaman hias mahal. Corak daun yang indah menjadi keunggulanku. Aku digelari ratu diantara tanaman hias. Aku bangga menjadi keluarga tanaman Sri Rejeki. Aku hidup senang dan bahagia. Aku dirawat anak cantik bernama Lioni. Dia menanam aku di pot keramik berwarna pink. Potku diletakkan di kamar, di samping meja belajarnya. Lioni tidak pernah bosan menatapku dan mengajakku mengobrol. Dia rajin   menyiramiku. Daun-daunku selalu segar. “Kamu tanaman hias yang cantik.” Pujian itu sering kudengar dari Lioni. Setiap Sabtu pagi, Lioni meletakkanku di teras bersama tanaman lainnya. “Kamu berjemur sebentar, ya. Kamu harus menikmati sinar matahari. Jangan khawatir, nanti kamu aku bawa lagi ke kamar,” kata Lioni saat meletakkan aku. Aku sangat menikmati waktu berjemur. Daun-daunku bergoyang ditiup angin sepoi-sepoi. Aku bisa memamerkan kecantikan dan kean...

Turik

Gambar
Turik selalu mengeluh kepada Mamaknya. Tiada hari tanpa mengeluhkan fisiknya. Turik insecure. “Banyak kali jerawatku, Mak. Andai wajahku kayak si Gittal, mulus menghasilkan fulus” “Issh, itam kali kulitku. Nggak kayak kulit si Mantik, keputihan dia, Mak.” “Aiiih, gendut kali aku, Mak. Beda kali sama bodi si Mentel yang seksi. Awak tepos, dia tonggek.” Begitulah Turik berkesah, membandingkan dirinya dengan orang lain. Biasanya Mamak menghibur dengan mengungkap semua kelebihan Turik. “Memang kau jerawatan, Rik. Tapi jewatmu cuma dua. Coba kau liat si Gurbak, nggak terhitung jerawatnya.” “Memang kau nggak keputihan, Rik. Tapi   ngga kayak si Boncilah, boru tulangmu itu.” “Gendut sih kau, tapi masih kalah gemukmu   sama si Bohai.” Penghiburan Mamak tak pernah berguna. Keluhan Turik tetap diputar non stop.   Belum ada penerimaan diri. Sampai suatu hari karena sudah nggak tahan lagi, emosi Mamak meledak. Meletup bagai kompor meleduk. “Turiiik! Kapan kau berhen...

Mi Gomak

Gambar
“ Amangjo tahe , cantik kalilah kau, Inang ?” kata Mak Benget saat melihat Sundari. Dengan tatapan kagum yang terlihat nyata, Mak Benget mengamati Sundari dari ujung dahi ke ujung jari kaki. Rambutnya ikal sebahu, mata bulat, wajah mulus, dagu lancip dan bibir lebar yang selalu melukiskan senyum. Pakaian modis yang membalut tubuh sintalnya, membuat Sundari terlihat menawan. Pandangan Mak Benget   lama berhenti di bibir Sundari yang merah merona, semerah cabai. Mak Benget kemudian teringat pada mertuanya yang memiliki bibir serupa tapi tak sama. “Aaaah! Semogalah ucapan dari bibir itu tidak sepedas cabai,” ujar Mak Benget pada dirinya. Hari ini, Benget menepati janji. Dia memperkenalkan pacarnya yang setiap hari diceritakan dengan berjuta puji kepada Mak Benget. Namun, setiap kali Benget bercerita, Mak Benget tertawa menolak percaya. Sebelum melihat dengan mata kepala sendiri, Mak Benget berpikir bahwa mustahil Benget mampu menggaet pacar yang cantik rupawan. “Macam Paramitha ...

A line Dress

Gambar
  “Alamak! Cantik kaliiii!” jeritku. Kupandangi layar ponsel, mengagumi sepotong gaun di etalase butik online. Gaun A line berwarna turangga. Berlengan tulip dan berleher sabrina. Terbuat dari satin bridal dipadu brokat di bagian dada. Bagian pinggang berhias batu kristal dan payet. Cantik sekaligus mewah. Aku benar-benar jatuh cinta pada gaun itu. Sayang, aku langsung patah hati ketika menelisik harganya, 875 ribu. Tanpa diskon, tanpa subsidi ongkos kirim. Omak pura-pura tidak mendengar jeritanku. Omak pasti tahu boru nya sedang mencari baju natal. Aku minta dibelikan dari kemarin. Omak langsung beralasan dan berpetuah, ”Natal bukan berarti harus pakai baju baru. Kau bukan anak-anak lagi, toh ? Sudah berumur 16 tahun, kelas 2 SMA.” “Belikanlah, Mak.” Aku menyodorkan ponsel kepada Omak. “Nggak usah mimpi!” kata Omak ketus. Bertingkah judes , itu strategi jitu Omak. Supaya aku membatalkan niat melantunkan pujian untuk merayu. Omak melirik sekilas harga gaunnya dan mengabaikan...