Happy Old Year
Film Thailand tahun 2019 ini, menceritakan tentang Jean yang hendak merenovasi rumah. Dia menginginkan rumah berkonsep minimalis dengan ruang yang lapang. Selain karena butuh ruang untuk kantor, rumahnya dijejali banyak benda yang tidak digunakan.
Rumah minimalis, tentu isinya minimal. Artinya, 3/4 isi rumah Jean harus disingkarkan. Emak dan adiknya menolak keinginan Jean. Bagi mereka, isi rumah punya ikatan emosional. Semua barang punya kenangan, jadi tidak mungkin dibuang. Apalagi rumah itu masih rumah emaknya Jean.
Jean tetap pada pendiriannya. Satu troli kantong sampah disiapkan. Satu persatu isi rumah masuk kantong sampah. Awalnya, Jean tanpa ragu membuang seluruh benda pemberian sahabatnya, pemberian mantan kekasihnya, bahkan rapor sekolahnya. Tetapi saat sahabatnya mengetahui, Jean menjadi tidak enak hati. Dia memutuskan untuk mengembalikan, tidak membuang.
Pengembalian barang ini mempertemukan kembali Jean dengan Aim, mantan kekasihnya yang dulu dia tinggalkan. Dia mengambil kesempatan itu untuk meminta maaf dan menjelaskan alasannya meninggalkan Aim. Saat itu, Aim sudah menjalin hubungan dengan Mi. Pengembalian barang-barang itu juga menyembuhkan rasa bersalahnya kepada Aim dan beberapa teman.
Salah satu barang yang paling sulit disingkarkan adalah piano. Emaknya menganggap piano itu barang kenangan milik sang suami yang meninggalkan mereka. Padahal, tidak seorang pun dari mereka yang bisa bermain piano. Bekerjasama dengan adiknya, Emak dibawa keluar rumah sehingga Jean bisa menjual piano ke pecinta barang antik.
Ada beberapa tips yang diberikan untuk berbenah rumah, salah satunya adalah "ketika tidak lagi merasa gembira saat menyentuh sebuah benda, singkirkan, jangan disimpan terus."
Film ini terlihat datar, tidak ada konflik yang menggigit, tapi menyuguhkan renungan. Apapun yang tidak lagi dibutuhkan dalam hidup, enyahkan. Sesaat kita mungkin merasa sedih, berikutnya pasti lupa. Hidup ternyata simpel, yang bikin ribet justru kita sendiri.
Pesan dari film ini adalah hiduplah minimalis. Dimulai dari rumah yang lapang karena hanya ada barang yang diperlukan. Otomatis pikiran terasa lapang. Rumah juga mudah dibersihkan. Kemudian selesaikan emosi negatif dalam relationship. Bila diperlukan, putuskan hubungan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Satu lagi, dari awal hingga film selesai, Jean mengenakan busana atasan putih dan bawahan hitam. Kaos putih saat di rumah, kemeja putih untuk bepergian. Bayangkan! Dia tidak butuh energi untuk memilih pakaian. Tas yang digunakan pun selalu sama, tote hitam.
Satu kalimat yang kucatat dari film ini adalah "lepaskan semua yang tidak dibutuhkan, simpan saja yang terbaik." Meliputi benda, memori, emosi dan hubungan.
Bila mengulik cerita ini dalam hidupku sendiri, ada beberapa yang sudah kupraktikkan. Salah satunya, aku tidak pernah menyimpan barang kenangan. Ada yang rusak secara tidak sengaja sehingga wajib dibuang dan ada pula yang sengaja dilempar ke tempat sampah. Lalu, semakin bertambah umur, keinginan membeli barang yang tidak dibutuhkan pun semakin berkurang. Dan... segala memori yang menguras emosi, mulai ditata. Memori mungkin tidak akan lenyap kecuali mengalami demensia. Namun, emosi saat memori itu terlintas sudah berganti dari emosi negatif menjadi netral saja.
Saat ini aku perlu membenahi sebuah kamar di rumah ortu untuk QL setelah SMP nanti. Banyak barang tak dipakai di kamar itu. Akankah Emak tetap bertahan bahwa semua barang itu harus disimpan juga? Hmmm... apa perlu si Emak nonton film ini?
Lalu, bagaimana dengan koleksi baju? Perlu dipertimbangkan juga. Mau warna putih aja, hitam aja, biru aja atau peach. Hemat waktu memilih baju yang hendak dipakai.
Apapun boleh minimalis, asal jangan isi rekening kita. Setujuuu 'kan? Caranya? Hiduplah minimalis.
Antara Medan-Sidakalang, 28 Maret 2021
Komentar
Posting Komentar