Nasihat yang Menjadi Keyakinan

Ada satu nasihat mamakku yang diam-diam menyusup ke alam bawah sadarku dan membuat hidupku jadi ringan.
Nasihatnya biasa aja.
"Jangan suka berutang."
"Tiang harus lebih besar daripada pasak."

Ketika dinasehati seperti itu, akan selalu masuk dari telinga kanan, lalu keluar dari telinga kiri. Cuman karena terus menerus kuping ini dengar kata-kata itu, akhirnya dua bertumbuh jadi keyakinan.

Lalu, apakah aku pernah berutang?

Ya pastilah. Wong, aku ini perintis bukan  pewaris. Aku sering ngutang itu pas masa kuliah. Maklum, uang bulanan suka habis sebelum waktunya, mau nggak mau, pinjam limpullah sama kawan.

Tetapi setiap kali punya utang, ada rasa tidak nyaman yang muncul kalau ketemu orang yang ngutangin. Seolah ada toa di dalam kepala yang terus berteriak.

Bayar utangmu, oi.
Bayar utangmu, oi

Bila belum punya uang untuk bayar, aku selalu ngomong ke orang yang ngutangin untuk memperpanjang jatuh tempo.

Aku juga nggak pernah berpikir bayar utang dengan ngutang. Dulu ketika gajiku  hanya sekitar tiga ratus ribu rupiah maka pengeluaranku harus di bawah tiga ratus ribu. Prinsip harus lebih besar tiang daripada pasak tetap kupegang teguh. Aku nggak jago ngatur uang tapi keyakinanku menyetir tindakanku.

Aku jadi sering menunda keinginan. Saat melihat barang yang kusukai, aku sering berkata, nanti saja atau udahlah, nggak penting itu. Pokoknya kalau membeli sesuatu,  kalau orang berpikir dua kali maka aku berpikir seribu kali. 😄

Ternyata, terlalu sering menahan keinginan juga ada efek sampingnya. Aku menjadi sangat hati-hati terhadap uang.Aku pandai menyimpan uang tapi kurang pandai menikmati uang.

Aku mudah merasa bersalah saat membeli sesuatu untuk diriku sendiri. Seolah setiap pengeluaran harus punya alasan yang sangat kuat. Seolah menikmati hasil kerja keras adalah sebuah kemewahan.

Pola ini jugalah yang dimiliki mamakku sampai sekarang. Dulu aku selalu menganggap mamakku itu pelit. Sekarang, aku bisa memahami tindakannya karena kebiasaan itu sudah berakar pada mamakku.

Bedanya, aku bisa menyadari pola ini pada diriku dan mulai memperbaiki hubunganku dengan uang. Pelan-pelan aku mulai memperbaiki sudut pandangku tentang uang. Bahwa uang itu mengalir, ada yang masuk dan ada yang keluar.

Terkait utang, aku melihat kalau dulu orang berutang karena benar-benar membutuhkan. Sekarang, sering kali orang berutang demi memuaskan keinginan. Ponsel yang masih bagus diganti dengan ponsel seri terbaru. Barang yang sebenarnya cuma trend, harus dimiliki sekarang juga.

Liburan.

Gaya hidup.

Perabot.

Gadget.

Walau belum mampu memenuhi semua itu, orang akan gampang melakukan pinjol dari ponselnya. Tinggal klik. Tinggal geser. Tinggal centang.

Semua yang kau mau langsung diantar sampai ke rumah. Tagihan jadi beban yang harus dicicil berbulan-bulan. Bahkan  belum lagi cicilan itu lunas, ciicilan lain udah menyusul.

Padahal sering kali yang kita inginkan bukan barangnya. Kita hanya candu pada rasa senang sesaat karena bisa membeli barang itu.  Masalahnya, rasa senang itu cepat habis, lebih cepat daripada cicilannya.

Aku tak bilang kredit atau pinjaman itu salah. Ada kalanya kredit sangat membantu. Ada kalanya pinjaman jadi penyelamat. Tetapi kebijaksanaan dalam melakukan pinjaman adalah poin utama.

Mungkin itulah mengapa nasihat mamakku masih bertahan sampai detik ini dan aku berterima kasih untuk nasihat itu membuat hidupku jauh lebih ringan dan lebih tenang.

Dan aku mencatat satu pelajaran lagi. Hubungan yang sehat dengan uang bukan hanya tentang tidak berutang. Bukan juga tentang hidup hemat. Tetapi tentang memberi diri sendiri izin untuk menikmati hasil kerja dengan sadar. Karena uang bukan cuma alat untuk bertahan hidup. Uang juga alat untuk menjalani hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belgia

Whisper of the Heart

Surat Cinta